23/12/12

Sebuah ungkapan dalam diamku

Terkadang dalamnya hati tidak sekerdil dengan sebaris kata.

Ada pula suasana dimana hati dipaksa untuk berdiam karena sang waktu tak berikan ijinnya.

Lisan hanyalah perwakilan rasa, namun tulusnya cintalah yang lebih utama.

Lalu apakah ketulusan cinta hanya akan dimaknakan dengan keberanian menyusun huruf semata ?...
  
Bukankah terkadang kata-kata bisa diputar balik untuk menyamarkan fakta?

  

Aku juga punya cinta, tapi apakah cinta itu akan tersampaikan dengan benar hanya ketika aku pandai lantunkan kata kata yang bermakna ?
 

Terkadang menjadi keturunan hawa menuntutku untuk tidak hanya bisa ucapkan cinta....
   
Karena ketika cinta yang kuungkapkan ternyata berbuah derita, maka tiada sempurna juga takdirku sebagai penjaga hawa.
 

Dan ketika aku tidak kuasa menjaga ruh dan jasad orang yang kucinta ,...
 

Masih pantaskah aku berkata lantang bahwa akulah sang pencinta...? 



Memang, akupun tak kuasa menolak saat seorang bijak bisikkan padaku sebaris kata, "memendam cinta yang ada dalam hati adalah cara tercepat untuk hancurkan jiwa!"
 

Sama halnya dengan makhluk bernyawa yang ada di muka bumi lainnya,...
 

Akupun punya sebentuk cinta yang selalu ingin kujaga kemurniannya.
 

Hanya saja aku lebih kuasa menyampaikan rasa ini dengan bahasa jiwa.
 

Dan aku yakin bahwa wanita juga adalah makhluk yang memiliki hati didalam jasadnya.
 

Memang terkadang laku dan sikap seringkali berbeda makna.
 

Namun, bukankah memang untuk itu Sang Pencipta berikan hati dan akal dalam diri kita semua?



Aku dan kaumku terkadang memang tidak selalu jadi seorang kesatria yang selalu tampil perkasa di muka wanita.
 

Tapi bahkan para bedebah di kaumku pun selalu menyelipkan kasih dalam lakunya, meski dalam sikap yang tidak seterang cahaya.
 

Memang, sebagian kami adalah kaum pemberani yang selalu siap ungkapkan kata cinta pada kasihnya....
 

Namun sebagian dari kami juga lebih memilih mengutamakan sikap sayang daripada sekedar kata kosong belaka.
 

Tidak kami inginkan wanita terlebih dahulu mengatakan cinta.
 

Tidak juga kami inginkan untuk memendam rasa yang bisa jadi sangat dalam torehkan luka.
 

Hanya saja tanggung jawab dalam sebuah pernyataan cinta terkadang tidak disadari secara mendalam oleh semua ...





7 komentar:

  1. Tapi dengan bicara dan menunjukan dengan ketulusan hati itu lebih baik.

    Lisan atau tulisan tak selalu ketdk jujuran, kdg kaum kami...membutuhkan kepastian dgn tindakan,ketuluisan dan ucapan sobat.

    jadi ungkapkan cintamu dgn lisan atau tulisanmu lalu buktikan ketulusanmu dgn sikap dan tingkah laku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih mbak buat kunjungan serta commentnya yg begitu mengesankan :)

      Memang, sebagai seorang lelaki yg identik dengan 'sikap jantan' seharusnya bisa begitu mudah mengungkapkan kata cinta.. tapi sebagian dari kami lebih memilih membiarkan kata cinta itu tersimpan dihati, ketika kami mengetahui bahwa cinta kita bertepuk sebelah tangan:D hahaha. Tapi ini bukan pengalaman saya pribadi koq mbak! Hanya sekedar menampung curhatan temen, terus menanggapinya dengan daya pikir dan perasaan yg saya miliki memalui tulisan, hehe

      Hapus
  2. Sys,..kalau mau follow blog ini mana kolom followernya ya ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih ya mbak atas sudinya menanggapi request saya, hehe
      Saya juga baru nyadar kalo saya belum ngasih kotak follower:D tapi sekarang udah saya kasih mbak, saya tempatin di sidebar atasnya blog archive :)
      Sekali lagi makasih ya mbak...:)

      Hapus
  3. Jatuh cinta saja, tanpa berharap untuk memiliki. Memiliki manusia akan ada disaat sampai ada kehilangan. Walaupun terkadang kita merasa kehilangan tanpa pernah memiliki. selalu ada jalan untuk cinta, meski terkadang tidak melewati jalan yang sama.

    BalasHapus
  4. trimakasih!
    akan diusahakan :)

    BalasHapus

Jika diam adalah emas... maka komentar kalian(bagi saya)adalah mutiara yg tak ternilai harganya :)